Oleh: Ahmad Fadillah, S.E, M.MB
Banjir di Sumatra tidak lagi bisa dipahami sebagai peristiwa musiman biasa. Ia datang lebih cepat, lebih luas, dan sering kali membawa daya rusak yang lebih besar. Banjir bukan lagi kejadian luar biasa—ia menjadi pola berulang yang semakin sulit diprediksi. Banjir besar pada November 2025 yang berdampak pada ratusan ribu jiwa dan merusak ratusan sekolah menjadi bukti nyata bahwa pendekatan tanggap darurat konvensional tidak lagi memadai.
Pertanyaannya bukan lagi apakah banjir akan datang, tetapi bagaimana kita merespons kenyataan bahwa banjir kini menjadi bagian dari lanskap risiko permanen. Pendekatan yang dominan saat ini, yang berfokus pada respons darurat (bantuan logistik, evakuasi) dan wacana relokasi umum, terbukti tidak berkelanjutan dan seringkali gagal mengatasi akar masalah. Masyarakat membutuhkan strategi adaptasi praktis yang memungkinkan mereka untuk hidup lebih aman dan produktif di tengah risiko banjir yang persisten.
Perubahan Iklim Global dan Hujan Ekstrem
Perubahan iklim telah secara fundamental mengubah pola hidrometeorologi di Indonesia, menjadikan banjir sebagai fenomena tahunan yang harus dihadapi oleh komunitas rentan, khususnya yang berada di bantaran sungai. Laporan IPCC AR6 menegaskan bahwa intensitas dan frekuensi kejadian hujan ekstrem meningkat seiring kenaikan suhu global. Setiap kenaikan suhu 1°C meningkatkan kapasitas atmosfer menahan uap air sekitar 7 persen, yang berarti potensi hujan dengan volume tinggi semakin besar.
Di kawasan Asia Tenggara, tren peningkatan hujan ekstrem juga teridentifikasi dalam beberapa dekade terakhir. Data BMKG menunjukkan peningkatan kejadian hujan dengan intensitas sangat lebat di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Sumatra.
Masalahnya bukan sekadar jumlah hujan tahunan, tetapi intensitas dalam waktu singkat. Ketika curah hujan dalam beberapa jam melampaui kapasitas infiltrasi tanah, air tidak sempat meresap. Ia mengalir di permukaan dengan energi tinggi. Dalam lanskap seperti Sumatra—dengan lereng curam, DAS pendek, dan sungai berenergi tinggi—limpasan ini berubah menjadi banjir cepat dan kadang banjir bandang.
Sumatra dalam Lanskap Non-Stasioner
Sumatra memiliki karakter geomorfologi khas: Pegunungan Bukit Barisan membentuk lereng-lereng curam dengan sistem sungai pendek yang responsif terhadap hujan. Dalam kondisi iklim yang stabil, sistem ini masih dapat berfungsi relatif seimbang.
Namun dalam kondisi iklim non-stasioner—di mana pola lama tidak lagi bisa dijadikan dasar perencanaan—zona aman menyusut. Wilayah yang dahulu jarang terendam kini ikut terdampak. Sungai kecil dapat berubah menjadi alur banjir dalam hitungan jam.
Keadaan ini diperparah dengan ekosistem hutan yang semakin hilang di Sebagian besar wilayah Sumatera. Daerah Aliran Sungai (DAS) tidak lagi cukup untuk menjadi area serapan Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi. Struktur tanah juga cenderung tidak stabil akibat akar pohon yang menjadi penguat struktur tanah telah hilang. Hal ini meningkatkan potensi bencana longsor yang menyebabkan banykanya korban jiwa.
Relokasi: Solusi Terbatas dalam Realitas Baru
Relokasi sering ditawarkan sebagai solusi utama. Namun pengalaman menunjukkan bahwa relokasi tidak selalu menghilangkan risiko. Dalam banyak kasus, lokasi baru tetap menghadapi banjir. Risiko hanya berpindah, bukan hilang.
Relokasi dapat relevan pada zona sempit berenergi tinggi atau lintasan material besar. Namun menjadikannya solusi umum dalam lanskap yang terus berubah adalah pendekatan yang terbatas dan sering kali maladaptif.
Sawit, Lereng, dan Sedimentasi
Sawit adalah realitas ekonomi vital di Sumatra. Menghapusnya bukan solusi realistis. Namun tata kebun pada lereng curam dan pengelolaan sempadan sungai memengaruhi dinamika aliran.
Ketika hujan ekstrem terjadi, limpasan dari lereng membawa tanah dan material lepas ke sungai. Sedimentasi meningkatkan volume dan daya rusak banjir, memperluas genangan, dan memperlambat pemulihan.
Bukan soal pro atau kontra sawit. Ini soal bagaimana tata air dan pengelolaan sedimentasi menjadi bagian dari strategi adaptasi.
Normal Baru dengan Banjir
Konsep “Normal Baru dengan Banjir” yang dikembangkan bersama Perkumpulan Elang berangkat dari kesadaran bahwa banjir tidak dapat dihapus. Yang dapat kita lakukan adalah mengelola dampaknya. Banjir tidak lagi dipahami sebagai kejadian luar biasa, melainkan sebagai “kenormalan baru” yang destruktif.
Paradigma ini menempatkan perlindungan anak, pengamanan aset keluarga, sistem peringatan dini, pengelolaan sedimen, dan percepatan pemulihan sebagai inti strategi. Sumatra tidak gagal karena banjir. Yang keliru adalah asumsi bahwa banjir dapat dihilangkan sepenuhnya.Pertanyaan kita harus berubah: bukan bagaimana menghentikan banjir, tetapi bagaimana memastikan setiap keluarga dan setiap anak tetap aman ketika banjir datang kembali.
